Perang Rusia-Jepang (1904-1905)

 

Perang Rusia-Jepang adalah konflik yang sangat berdarah yang tumbuh dari persaingan antara ambisi imperialis Rusia dan Jepang di Manchuria dan Korea. Peperangan ini utamanya terjadi karena perebutan kota Port Arthur dan Jazirah Liaodong, ditambah dengan jalur rel dari pelabuhan tersebut ke Harbin.

Sebelum  memasuki jalannya peperangan mari kita lihat Jepang pada tahun 1640 yang di mana saat itu Jepang berada di bawah kekuasaan shogun Tokugawa melaksanakan pemerintahan jepang dengan cara tertutup yang tidak terpengaruh oleh politik bangsa barat. Tujuan Tokugawa dalam melaksanakan sistem tertutup adalah dengan maksud agar negara Jepang tidak mudah terpengaruh oleh bangsa barat dan mengembangkan Jepang sesuai dengan budaya aslinya tanpa terpengaruhi oleh budaya luar mana pun. Pemerintahan Tokugawa tidak bertahan lama pada tahun 1868 Tokugawa menyerahkan kekuasaan kepada pemerintahan Meiji pada tahun 1868 atau di abad ke-19. Pemerintahan Meiji 1868-1912 menjalankan pembaharuan yang dikenal restorasi Meiji, tujuannya untuk membangkitkan jepang dengan upaya modernisasi pada bidang ekonomi, politik, dan militer. Perkembangan militer jepang di pengaruhi oleh semboyan Fukoku Kyohei (negara kaya, militer kuat) atas dasar tersebut pemerintah jepang berupaya bangkit dengan cepat dari masa lalunya yang mengalami kesulitan akibat sistem pemerintahan tertutup menggunakan semboyan tersebut pemerintah jepang berupaya untuk melakukan modernisasi yang sesuai dengan gaya barat sehingga keinginan kuat atas bidang ekonomi serta bangkitnya industri Jepang. Maka keinginan memiliki pertahanan atau militer kuat dapat diwujudkan dan dibangun segera untuk mempertahankan kedaulatan Jepang dari bangsa asing. Pembukaan Jepang terhadap dunia luar membuat perkembangan bidang ekonomi, industri, dan militer berkembang pesat dengan mencantumkan pengaruh budaya Eropa maupun Amerika dalam jalanya modernisasi. Pada tahun 1872 dalam upaya mempertahankan kedaulatan nasional dengan menganut semboyan Fukoku Kyohei pemerintahan Jepang mengeluarkan kebijakan pertahanan berupa wajib militer (choheo rei) bagi semua kaum laki-laki berumur 20 tahun wajib mengikuti militer baik masuk di angkatan darat maupun laut. Bagi laki-laki yang berumur 20 tahun merupakan anak laki-laki tunggal atau sulung, serta mereka yang dapat melunasi hutang dapat dibebaskan dari kegiatan wajib militer. Pemerintah Jepang mengirimkan dua perwakilan yaitu, Yamagata Oritomo dan Ouyama Iwao untuk menimba ilmu militer di Eropa pada tahun 1870, atas dasar pengalaman mereka di Eropa membentuk satuan militer yang beranggotakan para samurai pada tahun 1877 pembentukan militer tersebut menggunakan model barat sehingga lebih modern dan memiliki taktik khusus yang tidak dimiliki oleh pasukan Jepang sebelumnya. Pada tahun 1878, Yamagata salah satu utusan yang belajar di Eropa melakukan reorganisasi administrasi angkatan darat Jepang menurut sistem Jerman. Kebijakan wajib militer dibuat selama 12 tahun atas dasar pemerintahan Meiji. Pada tahun 1883, pemerintah membuka sekolah bagi lanjutan Staf Jenderal dan melakukan penambahan anggaran belanja Angkatan Darat. Angkatan Laut mengalami perubahan seperti Angkatan Darat, walaupun masih terhambat dana dan masih mengandalkan bantuan luar negeri. Pada tahun 1869, pemerintah mendirikan akademi angkatan laut (Kaigan Heigakku) di Tokyo para kadet yang merupakan mantan samurai berusia antara 18-20 tahun memiliki jiwa berani menghadapi kematian dan setia kepada pemimpin, mereka di latih oleh instruktur dari Inggris. Pemerintah Meiji menaikkan anggaran belanja pertahanan angkatan laut sebesar 20-30% anggaran tersebut digunakan untuk program pembelian dan kapal selama tahun 1882-1892, sehingga pada saat terjadi perang Cina-Jepang, angkatan laut memiliki armada kapal perang berjumlah 28 unit dan 24 unit kapal torpedo yang masing-masing berbobot 1470 ton. Perkembangan Industri militer begitu pesat membuat Jepang berani melangkah luas ke luar wilayah di Asia.

Awal peperangan ini dimulai pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, berbagai negara barat bersaing memperebutkan pengaruh, perdagangan dan wilayah di Asia Timur, sementara Jepang berjuang untuk menjadi sebuah negara modern yang besar. Lokasi Jepang mendorongnya untuk memusatkan perhatian pada Dinasti Joseon Korea dan Dinasti Qing di Tiongkok utara, sehingga membuat negara itu bersaingan dengan tetangganya, Rusia. Upaya Jepang untuk menduduki Korea menyebabkan pecahnya Perang Tiongkok-Jepang Kekalahan yang dialami Tiongkok dalam perang itu menyebabkan ditandatanganinya Perjanjian Shimonoseki (17 April 1895). Dengan perjanjian itu Tiongkok melepaskan klaimnya atas Korea, dan menyerahkan Taiwan dan Port Arthur. Namun, tiga kekuatan Barat (Rusia, Kekaisaran Jerman dan Republik Ketiga Prancis ) melalui Intervensi Tiga Negara pada 23 April 1895 menekan Jepang untuk menyerahkan Port Arthur, dan belakangan Rusia (tahun 1898) merundingkan penyewaan pangkalan Angkatan Laut selama 25 tahun dengan Tiongkok. Sementara itu, pasukan-pasukan Rusia menduduki sebagian besar wilayah Manchuria dan Rusia maupun Jepang berusaha mengambil alih Korea. Setelah gagal mendapatkan perjanjian yang menguntungkan dengan Rusia, Jepang mengirimkan sebuah ultimatum pada 31 Desember 1903, memutuskan hubungan diplomatik pada 6 Februari, dan mulai menyerang dua hari kemudian. Pada tanggal 8 Februari 1904 angkatan laut Jepang di pimpin oleh Jenderal Togo melakukan serangan ke armada laut Rusia di Port Arthur. Serangan dilakukan dengan meluncurkan torpedo-torpedo menuju kapal Rusia dari 18 torpedo yang diluncurkan hanya 3 buah torpedo yang mengenai kapal Rusia. Pertempuran masih terus berlangsung di Port Arthur, Jepang Menyusun strategi untuk melumpuhkan kekuatan Rusia, dengan melakukan pemotongan jalur keluar Port Arthur dengan menggunakan 5 unit kapal bertugas melakukan blockade jalur keluar Port Arthur kapal yang di gunakan berbobot sekitar 2000 ton. Rusia tidak menyangka hal itu terjadi, Sebagai jawaban terhadap strategi Jepang yang memberikan kemenangan cepat untuk menguasai Manchuria, Rusia melakukan tindakan-tindakan penghalang untuk memperoleh cukup waktu untuk menunggu tibanya pasukan-pasukan tambahan yang datang melalui jalan kereta api Trans-Siberia yang panjang. Pada 1 Mei 1904, pecahlah Pertempuran Sungai Yalu Dalam pertempuran ini pasukan-pasukan Jepang menyerang sebuah posisi Rusia setelah mereka menyeberangi sungai itu tanpa menghadapi perlawanan. Ini adalah sebuah pertempuran besar pertama dari perang ini di daratan. Pasukan-pasukan Jepang bergerak maju dan mendarat di beberapa titik di pantai Manchuria, serta melakukan sejumlah pertempuran hingga memukul balik pasukan-pasukan Rusia ke Port Arthur. Pertempuran  ditandai oleh kekalahan besar Jepang dalam penyerangan kepada sejumlah posisi kuat Rusia, tetapi tentara Rusia tetap bersikap pasif dan tidak melakukan serangan balasan. kemudian terdapat kabar bahwa Rusia mengirim pasukan bantuan armada Baltik yang menimbulkan semangat para prajurit Rusia di Port Arthur atas datangnya bantuan tersebut. Peperangan kembali terjadi bantuan yang diharapkan membawa kemenangan Rusia, tetap saja Jepang mengalami sebuah kemenangan. Pada akhir tahun 1904 tepatnya pada tanggal 10 Desember, Jepang dapat menghancurkan kapal-kapal armada laut Rusia.

Pertempuran masih berlanjut pada 1905, Rusia masih memiliki semangat untuk tidak menyerah terhadap Jepang karena akhirnya menerima bantuan Armada Baltik Rusia yang datang pada bulan Mei 1905. Perjalanan armada Rusia berlayar mencapai hampir 20.000 mil laut, yang dipimpin oleh laksamana Rochdestvenski menuju Vladivostok melalui selat Tsushima karena dengan alasan kemudahan melalui jalur utara. Jendral Togo sudah memperkirakan bahwa armada Rusia dari Baltik akan melewati Selat Tsushima sehingga pasukan Jepang melakukan upaya memblokir jalur layar armada Baltik ke Vladivostok sehingga menyebabkan pertempuran di Selat Tsushima pada 27 Mei 1905. Pertempuran di Selat Tsushima menjadi pertempuran laut terbesar dalam perang Jepang-Rusia. Jepang memiliki kekuatan militer sebanyak tiga Skuadron angkatan laut yang meliputi 32 unit kapal perang, 21 kapal perusak, serta 15 unit kapal torpedo. Sedangkan pada pihak lawan yaitu Rusia hanya memiliki dua Skuadron meliputi 12 kapal perang, 9 kapal perusak, 6 kapal penjelajah ditambah 2 unit kapal pengawal dan 9 unit kapal transport.

Sebelum Pertempuran Tsushima, kapal-kapal dalam pertempuran laut melepaskan tembakan meriam pada jarak yang lebih dekat. Laksamana Togo unggul karena armada Rusia tidak bersiap menghadapi serangan. Sejak perang dimulai, awak kapal perang Jepang sudah terus-menerus berlatih menembakkan meriam dengan peluru sub-kaliber. Armada Laksamana Togo memiliki penembak meriam yang lebih unggul dan lebih sering mengenai sasaran. Selain itu, kualitas amunisi Jepang waktu itu lebih baik dibandingkan amunisi Rusia. Tembakan meriam kapal-kapal Jepang juga lebih akurat karena memiliki lebih banyak instrumen pengukur jarak dibandingkan kapal Rusia. Armada Baltik waktu itu sedang tidak dalam keadaan siap tempur. Selain 4 kapal perang terbaru kelas Borodino, Armada Baltik terdiri dari kapal model lama dan tidak terpelihara dengan baik. Pelayaran panjang menyebabkan bagian bawah lambung kapal kotor karena kurangnya waktu pemeliharaan. Akibatnya, kecepatan kapal Rusia menjadi berkurang. Kapal-kapal Laksamana Togo bisa memiliki kecepatan maksimum 16 knot (30 km/jam), sedangkan kapal-kapal Laksamana Rozhestvensky hanya memiliki kecepatan maksimum 9 knot (17 km/jam). Laksamana Togo memanfaatkan keunggulan manuver kapal-kapalnya, dan sempat melakukan taktik pertempuran laut Crossing the T sebanyak 2 kali. Laksamana Rozhestvensky tewas seketika akibat pecahan logam di kepala. Dalam sehari pada 27 Mei 1905, armada Rusia kehilangan kapal tempur Knyaz' SuvorovOslyabya, Emperor Alexander III, dan Borodino. Kapal-kapal Jepang hanya mengalami kerusakan ringan, terutama Kapal Tempur Jepang Mikasa. Menjelang malam, Laksamana Muda Nebogatov mengambil alih komando armada Rusia. Di malam hari, kapal torpedo dan kapal perusak Jepang mulai memburu kapal-kapal armada Rusia yang berpencar dalam kelompok-kelompok kecil dan berusaha malarikan diri ke utara. Kapal tempur Navaein yang memang sudah tua, tenggelam. Kapal tempur Sisoy Veliki dan dua kapal penjelajah tua rusak berat Admiral Nakhimov dan Vladimir Monomakh hingga harus ditenggelamkan di pagi harinya.

Pertempuran yang berjalan hanya dua hari mengakibatkan kekalahan pihak kekaisaran Rusia, dengan kerugian berupa kehilangan 8 unit kapal perang dan sekitar lebih dari 5.000 jiwa tewas dalam peperangan tersebut, hanya tersisa 3 unit kapal yang bisa menuju ke Vladivostok. Kekalahan Rusia menjadi kemenangan pihak Jepang, dan menjadikan Jepang disegani oleh negara-negara Eropa dan sekitar Asia. Peperangan berakhir dengan kemenangan pihak Jepang, yang kemudian kedua belah pihak mengadakan kesepakatan bersama berupa perdamaian di Portsmouth, Newhampshire, Amerika Serikat pada 9 Agustus – 5 September 1905.







Komentar