Awal mula dari konflik ini adalah wafatnya Sultan Hamad bin Thuwaini yang dikenal pro-Britania (Anglo) pada 25 Agustus 1896 dan dilanjutkan oleh Sultan Khalid bin Barghash. Namun, Britania lebih menyukai Hamud bin Muhammed yang menjadi sultan menggantikan Hamad bin Thuwaini, dikarenakan lebih pro terhadap Britania. Bagi Britania pengangkatan Sultan Khalid tidak sesuai dengan perjanjian Heligoland-Zanzibar, yaitu antara tentara Inggris dan Jerman pada 1890. Bahwa syarat naik tahta sultan harus mendapatkan izin dari Britania dan Khalid tidak memenuhi persyaratan itu. Sebagai Balasannya Britania menganggap hal ini sebagai casus belli dan mengirimkan ultimatum ke Khalid agar pasukannya menyerah dan meninggalkan istana. Bukannya menyerah justru Khalid pun bereaksi dengan mengumpulkan para penjaga yang berada di istana dan mengurung diri pada istana.
Sebanyak tiga kapal penjelajah, dua kapal meriam, 150 marinir dan pelaut, dan 900 tentara Zanzibar sudah disiapkan oleh pasukan Britania, yang di mana saat itu pasukan AL Britania dipimpin oleh Laksamana Muda Harry Rawson, sementara tentara Zanzibar dipimpin oleh Brigadir Jenderal Lloyd Mathews dari Angkatan Darat Zanzibar. Dan sekitar 2.800 penduduk Zanzibar melindungi istana yang di mana banyak direkrut dari warga sipil, serta penjaga istana dan sekian ratus pelayan dan budaknya. Pihak Zanzibar juga bertahan dengan sejumlah artileri dan senjata mesin yang dipasang di depan istana agar terlihat oleh kapal-kapal Britania. Pertempuran dimulai dengan pengeboman yang dilakukan oleh pihak Britania pada pukul 09.02 menyebabkan istana terbakar dan merusak artilerinya. Pertempuran juga terjadi dilaut yang menyebabkan tenggelamnya satu kapal pesiar kerajaan dan dua kapal kecil kerajaan Zanzibar. Peperangan ini berhenti saat bendera istana di tembak jatuh yang membuat pertempuran berhenti pada pukul 09.40.
Pasukan sultan kehilangan sebanyak 500 personelnya, sementara hanya satu pelaut Britania yang terluka, Sultan Khalid mendapatkan perlindungan di bawah pemerintahan Jerman sebelum kabur ke Afrika Timur Jerman (di daratan Tanzania). Britania segera memasang Sultan Hamud di tampuk kekuasaan sebagai kepala pemerintahan negara boneka. Perang ini menandai akhir dari Kesultanan Zanzibar sebagai negara berdaulat dan mengawali masa-masa yang sangat dipengaruhi Britania Raya.

Komentar
Posting Komentar