Israel memang tidak pernah luput dari peperangan salah satunya Perang Yom Kippur, atau dikenal juga dengan nama Perang Ramadan atau Perang Oktober adalah perang yang terjadi pada tanggal 6 - 26 Oktober 1973 antara negara Israel melawan koalisi negara-negara Arab yang dipimpin oleh Mesir dan Suriah.
Konflik ini dimulai saat kursi pemerintahan Mesir di gantikan oleh Anwar Sadat karena pada saat itu Presiden Nasser meninggal pada tahun 1970. Pada masa jabatannya Sadat terus berusaha keras untuk menyelesaikan konflik Arab-Israel pada panggung politik internasional dengan upaya diplomasi agar Israel mau menyerahkan daerah kekuasaannya sejak Perang Enam Hari tahun 1967. Namun pada tahun 1971 Sadat merasa bahwa satu-satunya jalan yang paling efektif yang harus ditempuh adalah melalui Perang karena Sadat mengetahui bahwa Israel merupakan sekutu dekat dengan Amerika Serikat sejak lama sehingga ia yakin bahwa Israel akan memperoleh dukungan kekuatan militer dari Amerika Serikat.
Oleh karena itu Mesir melakukan serangan untuk menyeberangi Terusan Suez untuk melawan Israel yang diberi dengan nama sandi Operasi Badar pada tanggal 6 Oktober 1973. Serangan ini bersamaan dengan serangan Suriah ke Dataran Tinggi Golan pada tahun itu juga, sehingga memicu Pertempuran Yom Kippur pada tanggal 6 Oktober 1973. Perang ini dimulai pada tanggal 6 Oktober 1973, pada hari Yom Kippur, hari raya Yahudi yang paling besar, tepatnya saat pukul 14.00 saat orang-orang Israel sedang khusyuk merayakannya. Suriah, Libya dan Mesir menyerbu Israel secara tiba-tiba. Di Dataran Tinggi Golan Pihak Suriah mengerahkan sekitar 1.200 tank dan 150.000 prajurit untuk melawan 180 tank Israel namun karena tank strategi perang Israel lebih mumpuni pada akhirnya tanggal 9 Oktober pasukan Suriah secara efektif berhasil dikalahkan oleh (IDF) Korps Kendaraan Lapis Baja Israel. Sedangkan di terusan Suez, kurang dari 500 prajurit Israel berhadapan dengan 80.000 prajurit Mesir. Mesir mengambil pelajaran pada Perang Enam Hari pada tahun 1967 tentang lemahnya pertahanan udara sehingga saat itu 3/4 kekuatan udara Mesir hancur total sementara Suriah masih dapat memberikan perlawanan. Sadar bahwa armada pesawat tempur Mesir masih banyak menggunakan teknologi lama dibandingkan Israel, Mesir akhirnya menerapkan strategi payung udara dengan menggunakan rudal dan meriam anti serangan udara bergerak yang jarak tembaknya dipadukan. Angkatan udara Israel akhirnya kewalahan bahkan banyak yang menjadi korban karena berusaha menembus "jaring-jaring" pertahanan udara itu. Setelah pasukan Mesir berhasil menyeberangi Suez dengan 200,000 pasukan dan ingin memasuki semenanjung Sinai, Israel melakukan serangan balasan pada 6-9 Oktober tahun 1973 yang berhasil merugikan serangan dari pihak koalisi negara Arab di mana negara-negara Arab seperti Suriah dan Mesir kehilangan banyak kendaraan perangnya setelah Israel memobilisasi tentara cadangan, akhirnya Israel berhasil "menjinakkan" payung udara Mesir yang ternyata lambat dalam mengiringi gerak maju pasukkannya, dengan langsung mengisi celah (gap) antara payung udara dengan pasukan yang sudah berada lebih jauh di depan. Akibatnya beberapa divisi Mesir terjebak bahkan kehabisan perbekalan. Sementara di front timur, Israel berhasil menahan serangan lapis baja Suriah. namun dalam serangan balik ini Israel juga mengalami kerugian yang sama yaitu hampir kehilangan lebih dari 400 tank.
Melihat Mesir mengalami kekalahan, Uni Soviet tidak tinggal diam. Melihat tindakan Uni Soviet, Amerika Serikat segera mempersiapkan kekuatannya. Yaitu pada tanggal 14 Oktober 1973 Israel mendapatkan bantuan persenjataan dari Amerika Serikat selama Perang Yom Kippur berlangsung pada tahun 1973 untuk melawan koalisi dari negara-negara Arab yang diberi sandi Operasi Nickle Grass. Kemudian, Raja Faisal bin Abdul Aziz dari Arab Saudi mengumumkan pembatasan produksi minyak. Krisis energi tinggi dan negara-negara industri kewalahan lantaran harga minyak dunia membumbung tinggi.
Namun Israel tetap melanjutkan peperangan setelah mendapat bantuan persenjataan dari Amerika Serikat antara lain adalah tank dan juga rudal anti-tank (TOW) dari Operasi Nickle Grass yang dilakukan pada tanggal 14 Oktober 1973. Yang di mana pada tanggal 17 terusan Suez berhasil kembali jatuh di tangan Israel dan pada tanggal 18 Israel melakukan Operasi Gazelle untuk mengalahkan serangan militer Mesir yang berada di Terusan Suez. Hasil dari pertempuran ini adalah Israel berhasil memenangkan pertempuran dengan mempertahankan Terusan Suez dari serangan Mesir dan Suriah. sehingga banyak menimbulkan korban jiwa di mana tentara Mesir kehilangan 12.000 Prajurit sedangkan Suriah kehilangan 3,500 prajurit di Dataran Tinggi Golan. Namun secara total 2.688 tentara Israel tewas dan kurang lebih 7.000 orang cedera, 314 tentara Israel dijadikan tawanan perang dan puluhan tentara Israel hilang. Tentara Israel kehilangan 102 pesawat tempur dan kurang lebih 800 tank. Di sisi Mesir dan Suriah 35.000 tentara tewas dan lebih dari 15.000 cedera. 8.300 tentara ditawan. Angkatan Udara Mesir kehilangan 235 pesawat tempur dan Suriah 135.
Setelah dua minggu peperangan pada 25 Oktober 1973 perang Yom Kippur akhirnya selesai dengan gencatan senjata Mesir-Israel yang disepakati oleh PBB. Namun untuk mencegah peperangan terjadi lagi maka pada tanggal 17 September 1978 Dewan Keamanan PBB mengadakan resolusi. Dari resolusi tersebut lahirlah perjanjian antara Mesir dan Israel untuk mendamaikan Timur Tengah setelah pertempuran panjang Yom Kippur yang diberi nama Perjanjian “Camp David Accord” yang ditanda tandatangani di Gedung Putih Amerika Serikat. Kemudian dari perjanjian ini lahirlah Perjanjian Damai Mesir-Israel pada tanggal 26 Maret 1979 sebagai hasil dari Perjanjian “Camp David Accord”.

Komentar
Posting Komentar